Sabtu, 11 Mei 2013
Seminar “Islam & Politik di Indonesia” Gemakan Universitas Almuslim
Peusangan- Seminar yang bertemakan “Islam dan Politik di Indonesia?” yang digelar
LPPM Universitas Almuslim, Rumah Pintar Peusangan (RP2), yang bekerja sama
dengan Arizona State University dan INA Frontier menjadi begitu fenomenal dan
mendapat sambutan antusias dari ratusan peserta yang mengikuti seminar tersebut
di Aula M.A Jangka Universitas Almuslim, Sabtu (04/05).
Seminar ini bertujuan Untuk memberikan pemahaman kepada seluruh elemen
masyarakat, mahasiswa dan akademisi tentang penerapan Syariat Islam di Aceh,
dan perbandingan dengan penerapan syariat Islam di Malaysia dan Iran. Seminar
tersebut disampaikan oleh 4 orang pemateri, yakni Prof. Mark R. Woodward
(Arizona State University, Amerika), Dicky Sofjan, Ph.D (Indonesian
Consortium for Religious Studies (ICRS), Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta),
Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D (IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh) dan Inayah
Rohmaniyah, M.Hum, M.A, Ph.D (abd) (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Selain
nama diatas, turut juga menghadirkan walikota Lhokseumawe Tgk Suaidi Yahya
bersama Danial, M.A (abd) (Dosen STAIN Malikussaleh & Direktur Eksekutif
The Finiqas Institute) yang bertindak sebagai Discusssant.
Pada Seminar “Islam dan Politik di
Indonesia”, yang berlangsung Kemarin mendiskusikan begitu banyak hal yang
menjadi kesenjangan antara politik dan islam di Indonesia, khususnya Aceh yang
saat sekarang sudah hampir 11 tahun diteriakkan sebagai negeri syariat, yang
pasalnya pelanggaran syariat Islam terus menerus terjadi, bahkan semakin
vulgar. Bahkan, pemberitaan media di Aceh, nyaris setiap harinya masyarakat
dicecoki oleh pemberitaan narkoba, pembunuhan, khalwat, korupsi hingga
prostitusi. Jika melihat persentase, setiap tahun justru mengalami peningkatan
yang luar biasa. Pembantaian Syariat ini mulai terasa sejak Wilayatul Hisban
atau WH sudah tidak berdiri sendiri secara independen.
Seminar ini menjadi sangat menarik mengingat fenomena Islam dan politik
yang terjadi saat ini, di mana Umat Islam dalam kehidupan modern ini menjadi
terasing dan alergi bahkan salah mengartikan politik atau institusi politik.
Berpolitik, berpartai politik atau berkampanye dianggap sebagai sebuah tabu dan
aneh dalam kehidupan seorang muslim. Inilah yang menjadi tragedi dalam umat
Islam sehingga sifat Islam yang termasyhur menjadi terkucil manakala berbicara
mengenai pentingnya tata kenegaraan baik para pejabat dan institusinya ketika
dicelup dengan Islam.
Dalam konteks inilah perlu dilakukan kajian-kajian ilmiah baik dalam
bentuk seminar, pelatihan dan workshop sebagai upaya merefleksikan kembali
penerapan syariat Islam di bumi serambi Mekkah, dan dengan harapan hasil dari
seminar tersebut bisa direkomendasikan untuk pelaksanaan syariat Islam yang
kaffah di Aceh, ungkap Ketua Panitia Rahmad, S.Sos, MAP.
(Saiful
Amri)
Langganan:
Postingan (Atom)

